Minggu, 17 Juli 2011

coelenterata

Coelenterata berasal dari bahasa yunani(Greek); coilos= rongga, enteron= usus. Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga, tetapi cukup disebut hewan berongga. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterate tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenterons. Rongga tersebut berfungsi sebagai rongga pencernaan dan sekaligus berfungsi sebagai pengedar sari makanan. Oleh karena itu rongga tersebut disebut juga sebagai rongga gastrovaskular.
Filum Coelenterate ada beberapa ahli yang menyebutnya dengan istilah filum Cnidaria. Nama Cnidaria diberikan karena hewan ini memiliki sel-sel knidosit/knidoblast yang berisi organel-organel sengat. Sebagian Cnidaria hidup soliter, sedangkan yang lain hidup berkoloni . hewan-hewan yang termasuk dalam filum ini meliputi golongan hydra , ubur-ubur, anemon laut, dan koral atau hewan karang. Hewan –hewan kelompok ini biasanya memiliki simetri tubuh yang bersifat radial, termasuk juga kelompok ctenophore, sehingga disebut radiata.
Dibandingkan dengan filum Porifera, filum Coelenterate lebih maju tingkatan filogennya. Kalau Porifera disebut sebagai parazoa maka Coelenterata sudah disebut sebagai metazoan walaupun masih primitive. Hal ini didasarkan atas kekompleksan struktur tubuhnya. Porifera tubuhnya tersusun oleh banyak sel atau multi sel yang berarti lebih tinggi tingkatannya dibandingkan hewan protozoa yang tubuhnya terdiri hanya satu sel saja. Tetapi sel-sel tersebut belum membentuk suatu susunan yang dapat disebut sebagai jaringan dan organ yang sesungguhnya. Hal ini karena sel tubuhnya masih cenderung bekerja secara individual. Sementara itu Coelentarata tubuhnya juga tersusun oleh banyak sel dan sudah membentuk jaringan dan perkembangan organ tubuhnya masih terbatas.
2.1 Habitat
Coelenterata hidup bebas secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil di air.Mangsa menempel pada knodosit dan ditangkap oleh tentakel untuk dimasukkan kedalam mulut.Habitat Coelenterata seluruhnya hidup di air, baik di laut maupun di air tawar.Sebagaian besar hidup dilaut secara soliter atau berkoloni. Ada yang melekat pada bebatuan atau benda lain di dasar perairan dan tidak dapat berpindah untuk bentuk polip, sedangkan bentuk medusa dapat bergerak bebas m elayang di air.


2.2 Bentuk tubuh dan gerak
Tubuh hewan-hewan Coelenterate tersusun oleh dua lapis jaringan dan satu lapisan non seluler. Bagian luar berupa lapisan jaringan epidermis dan bagian dalam lapisan jaringan endodermis atau gastrodermis. Sedangkan di kedua lapisan tersebut ada lapisan non seleluler yang disebut mesoglea. Jaringan gastrodermis melapisi rongga gastrovaskular, sementara mesoglea merupakan masa pasta atau gudir yang disekresikan oleh sel-sel epidermis dan gastrodermis. Zat-zat tersebut mengisi ruangan antara lapisan epidermis dan gastrodermis. Kadang-kadang di dalam lapisan mesoglea ini terdapat sel-sel amoeboid. Jadi sebenarnya tubuh Coelenterata terbangun oleh dua lapis germinal yakni ectoderm dan endoderm. Bentuk tubuh Coelenterate memiliki dua tipe dasar yakni sebagai polip yang sesil atau menenempel dan sebagai medusa yang dapat berenang bebas. Tipe polip memiliki bentuk seperti tabung atau silinder, pada ujung oral terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel,dan dapat bergerak memanjang atau mengkerut. Tubuh tipe medusa berbentuk seperti sebuah” bel atau lonceng “atau seperti payung bagian tubuh yang cembung berada diatas dan yang cekung dibawah. Pada bagian tengah dari cekungan tersebut terdapat mulut.
Secara umum hewan-hewan coelenterata memiliki cirri-ciri khusus;
 Tubuh radial simetris(silindris, globlular atau spherikal)
 Dinding tubuh diploblastik(dua lapis jaringan, ectoderm/epidermis dan endoderm/gastrodermis)yang memiliki sel jelatang atau penyengat
 Tubuh tidak beranus tetapi hanya bermulut yang dilengkapi dengan tentakel-tentakel disekelilingnya
 System pencernaan makanan tidak komplit, hanya berupa rongga gastrovaskular
 Belum memiliki alat pernapasan, sirkulasi atau ekskresi yang khusus.
POLIP
• Umumnya hidup soliter (sendiri), tapi ada pula yang memben-tuk koloni.
Melekat pada dasar perairan, tidak dapat bergerak bebas, sehingga menyerupai tumbuhan yang tertambat. Tubuh atas membesar. Di dalam tubuh polip ini terdapat rongga gastrovaskuler yang fungsinya sebagai usus. Di bagian atas terdapat mulut dan tentakel untuk berperan untuk menangkap mangsa. Polip merupakan fase vegetatif pada coelenterata, karena bisa melakukan fragmentasi pemutusun bagian dari tubuhnya itu untuk membentuk individu baru
MEDUSA
Kehidupan bebas Coelenterata. Fase medusa merupakan fase generatif (seksual). Fase ini menghasilkan sel telur dan sel sperma. Medusa dapat melepaskan diri dari induk dan berenang bebas di perairan. Bentuknya seperti payung dan punya tentakel yang melambai-lambai. Kita biasa menamakannya dengan ubur-ubur
Pergerakan
Kontraksi otot berpengaruh terhadap cairan di dalam rongga gastrovaskuler yang berlaku sebagai suatu rangka hidrostatik, sebagaimana mesoglea. Gerakan pada polip biasanya terbatas merayap atau meliuk-liu, sedang pada medusa dapat berenang bebas . tubuh polip misalnya pada Hydra dapat memanjang memendek, atau melengkung ke berbagai arah. Medusa berenang dengan jalan berdenyut, yang dihasilkan oleh otot melingkar pada tepi lonceng dan menghasilkan gerakan vertical. Sedangkan gerakan horizontal tergantung pada arus laut, kecuali pada beberapa jenis cubosa.

2.3 Cara memperoleh makanan dan pencernaan
Coelenterata hidup di perairan yang jernih yang mengandung partikel-pertikel organik, plankton atau hewan-hewan kecil.Jika terdapat hewan kecil, misal ikan kecil menempel pada tentakel dan mengenai sel knidoblast, maka sel tersebut mengeluarkan racun. maka akan lemas lalu tentakel membawanya ke mulut.
Pencernaan
Lubang mulut terdapat di tubuh sebelah atas dan dikelilingi oleh lengan-lengan yang disebut tentakel. Tentakel berguna untuk menangkap dan memasukkan makanan ke dalam tubuh. Pada permukaan tentakel terdapat sel-sel beracun yang disebut knidoblast yang mengandung sel penyengat yang disebut nematosista. Pencernaan makanan terjadi di dalam rongga dalam gastrovaskuler yang berfungsi sebagai usus. Di dalam rongga tersebut sel kelenjar enzim menghasilkan enzim semacam tripsin untuk mencerna protein. Makanan hancur menjadi partikel-partikel kecil seperti bubur dan dengan gerakan flagella diaduk hingga merata. Sel otot pencerna mempunyai pseudopia untuk menangkap dan menelan partikel makanan, dan pencernaan dilanjutkan secara intraseluler. Hasil pencernaan didistrisibusikan ke seluruh tubuh secara difusi. Cadangan makanan terutama berupa lemak dan glikogen. Sisa-sisa makanan dikeluarkan melalui mulutnya karena tidak memiliki anus. Jadi pencernaan pada Coelenterata merupakan pencernaan ekstraseluler.

2.4 Reproduksi
Ada 2 cara perkembangbiakan, yaitu : aseksual (vegetatif) dan seksual (generatif)

1 ASEKSUAL (VEGETATIF)
Dilakukan dengan membentuk kuncup pada kaki pada fase polip. Makin lama makin besar, lalu membentuk tentakel. Kuncup tumbuh disekitar kaki sampai besar hingga induknya membuat kuncup baru. Semakin banyak lalu menjadi koloni.
SEKSUAL (GENERATIF)

Dilakukan dengan peleburan sel sperma dengan sel ovum (telur) yang terjadi pada fase medusa. Letak testis di dekat tentakel sedangkan ovarium dekat kaki. Sperma masak dikeluarkan lalu berenang hingga menuju ovum. Ovum yang dibuahi akan membentuk zigot. Mula-mula zigot tumbuh di ovarium hingga menjadi larva. Larva bersilia (planula) berenang meninggalkan induk dan membentuk polip di dasar perairan.
Cara perkembangan yang berganti dari generatif - vegetatif - generatif membentuk suatu daur yang istilah biologinya dikenal dengan METAGENESIS
2.5 Klasifikasi

Coelenterata dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu : Hydrozoa, Scyphozoa, Anthozoa.

HYDROZOA

Hydrozoa berasal dari kata hydra, artinya hewan yang bentuknya seperti ular. Umumnya hidup soliter atau berkoloni. Soliter berbentuk polip dan yang berkoloni berbentuk polip dan medusa.
Hydrozoa hidupnya ada yang soliter (terpisah) dan ada yang berkoloni (berkelompok). Hydrozoa yang soliter mempunyai bentuk polip, sedangkan yang berkoloni dengan bentuk polip dominan dan beberapa jenis membentuk medusa. Pada polip soliter seperti Hydra, tunas hasil reproduksi aseksual yang telah mempunyai mulut dan tentakel akan lepas dari induknya dan hidup sebagai polip baru yang juga soliter.
Hydra

Bentuk tubuh Hydra seperti polip, hidup di air tawar. Ukuran tubuh Hydra antara 10 mm – 30 mm. Makanannya berupa tumbuhan kecil dan Crustacea rendah. Bagian tubuh sebelah bawah tertutup membentuk kaki, gunanya untuk melekat pada obyek dan untuk bergerak. Pada ujung yang berlawanan terdapat mulut yang dikelilingi oleh hypostome dan di sekelilingnya terdapat 6 – 10 buah tentakel. Tentakel berfungsi sebagai alat untuk menangkap makanan. Selanjutnya makanan dicernakan di dalam rongga gastrovaskuler.
Perkembangan Hydra terjadi secara aseksual dan seksual. Perkembangbiakan secara aseksual terjadi melalui pembentukan tunas/budding, kira-kira pada bagian samping tengah dinding tubuh Hydra. Tunas telah memiliki epidermis, mesoglea dan rongga gastrovaskuler. Tunas tersebut terus membesar dan akhirnya melepaskan diri dari tubuh induknya untuk menjadi individu baru.
Perkembangbiakan secara seksual terjadi melalui peleburan sel telur (dari ovarium) dengan sperma (dari testis). Hasil peleburan membentuk zigot yang akan berkembang sampai stadium gastrula. Kemudian embrio ini akan berkembang membentuk kista dengan dinding dari zat tanduk. Kista ini dapat berenang bebas dan di tempat yang sesuai akan melekat pada obyek di dasar perairan. Kemudian bila keadaan lingkungan membaik, inti kista pecah dan embrio tumbuh menjadi Hydra baru.
Obelia
Hidup di air laut secara koloni. Sebagian besar waktu hidupnya sebagai koloni polip. Bagian polip yang berfungsi dalam hal makan disebut hidrant, sedang fase seksual (medusa) disebut gonangium
Pembuahan eksternal terjadi di laut, pembuahan internal pada permukaan manubrium atau di gonad. Telur yangtelah dibuahi menetas menjadi blastula, kemudian grastula memanjang menjadi larva planula yang bersilia. Setelah berenang bebas beberapa jam sampai beberapa hari, larva planula menempel pada benda atau substrat dan tumbuh menjadi polip. Polip tersebut melakukan pertunasan sehingga menghasilkan polip-polip baru yang tetap menempel pada polip induk hingga terbentuk suatu koloni hydroid yang paling sedikit dimorfik. Gonozooid secara aseksual menghasilkan beberapa bakal medusa, kemudian dilepas ke air sebagai medusa kecil, berenang bebas untuk kemudian tumbuh menjadi dewasa.

SCYPHOZOA
Berasal dari kata scyphos = mangkok Memiliki bentuk dominan medusa. Polip bagian atas akan membentuk medusa lalu lepas melayang di air. Medusa akan melakukan kawin dan membentuk planula sebagai calon polip. Tidak semua medusa Scyphozoa berenang bebas, jenis-jenis dari ordo Stauromedusae merupakan medusa yang sesil, bagian aboral dari lonceng memanjang berbentuk tangkai untuk menempel pada ganggang atau benda lain, hingga bentuknya mirip polip. Bentuk tubuh Scyphozoa menyerupai mangkuk atau cawan, sehingga sering disebut ubur-ubur mangkuk. Contoh hewan kelas ini adalah Aurellia aurita
Aurellia aurita berupa medusa berukuran garis tengah 7 – 10 mm, dengan pinggiran berlekuk-lekuk 8 buah. Hewan ini banyak terdapat di sepanjang pantai. Seperti Obelia, Aurellia juga mengalami pergiliran keturunan seksual dan aseksual. Aurellia memiliki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina. Pembuahan ovum oleh sperma secara internal di dalam tubuh individu betina.
Hasil pembuahan adalah zigot yang akan berkembang menjadi larva bersilia disebut planula. Planula akan berenang dan menempel pada tempat yang sesuai. Setelah menempel, silia dilepaskan dan planula tumbuh menjadi polip muda disebut skifistoma. Skifistoma kemudian membentuk tunas-tunas lateral sehingga Aurellia tampak seperti tumpukan piring dan disebut strobilasi.Kuncup dewasa paling atas akan melepaskan diri dan menjadi medusa muda disebut Efira. Selanjutnya efira berkembang menjadi medusa dewasa.
ANTHOZOA
Berasal dari kata anthos = bunga. Hidup di laut bentuk polip, tidak punya fase medusa. Polip bereproduksi secara aseksual dengan tunas, pembelahan dan fragmentasi. Reproduksi seksual dengan fertilisasi yang menghasilkan zigot lalu menjadi planula.
Kelas Anthozoa meliputi Mawar Laut (Anemon Laut) dan Koral (Karang).
1.Mawar Laut (Anemon Laut)
Mawar laut menempel pada dasar perairan. Pada permukaan mulut Mawar Laut terdapat banyak tentakel berukuran pendek. Tentakel ini berfungsi untuk mencegah agar pasir dan kotoran lain tidak melekat sehingga Mawar Laut tetap bersih.
2.Koral (Karang)
Koral atau karang cara hidupnya berkoloni membentuk massa yang kaku dan kuat. Massa itu sebenarnya karang kapur yang dibentuk oleh generasi polip. Koral yang sudah mati, rangka kapurnya akan menjadi batu karang/terumbu. Ada tiga tipe batu karang, yaitu karang pantai, karang penghalang dan karang atol.


Contoh :
1. Anemon laut : Metridium marginatum, Utricina crasicaris.
2. Karang laut : Astrangia denae, Tubiphora musica

2.6 Peranan
• Hewan ubur-ubur yang banyak di perairan Indonesia dapat dimanfaatkan untuk dibuat tepung ubur-ubur, kemudian diolah menjadi bahan kosmetik / kecantikan. Di Jepang selain sebagai bahan kosmetik, ubur-ubur dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
• Karang atol, karang pantai, dan karang penghalang dapat melindungi pantai dari aberasi air laut. Di samping itu, karang merupakan tempat persembunyian dan tempat perkembangbiakan ikan.
• Dalam perairan berperan sebagai plankton sebagai makanan ikan
• Penyusun terumbu karang yang ada di lautan.
• Sebagai hiasan.






Daftar pustaka
• Radiopoetro. 1986. Zoology. Jakarta: Erlangga.
• Suwignyo, Sugiarti dkk. 2005. Avertebrata Air. Jakarta: Erlangga
• Kastawi, Yusuf dkk. Zoology Avertebrata. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar